Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Mubarok: Dari Budak Taat Menjadi Ayah Ulama Besar Abdullah bin Mubarok

Diceritakan, dahulu di kota Marwu, Persia, hiduplah seorang laki-laki bernama Nuh bin Maryam, seorang pemimpin sekaligus Qadli kota. Beliau adalah orang yang kaya raya dan banyak nikmat dunia.

Nuh bin Maryam memiliki seorang putri cantik dan salehah. Banyak pemuda kaya dan pejabat datang untuk melamarnya, namun tak seorang pun mampu menarik hati sang Qadli. Ia merasa bingung, siapa yang layak menjadi pendamping putrinya.


Pertemuan dengan Mubarok

Syaikh Nuh bin Maryam memiliki seorang budak laki-laki dari India bernama Mubarok, terkenal taat dan bertaqwa. Suatu hari, Nuh memerintah Mubarok untuk menjaga kebunnya. Selama sebulan Mubarok menjaga kebun dengan penuh tanggung jawab.

Ketika Nuh meminta Mubarok memetik anggur manis, Mubarok hanya bisa menyerahkan anggur masam. Ia menjawab dengan jujur:

"Wahai tuanku, aku tak tahu mana anggur manis dan mana masam. Aku hanya diperintahkan untuk menjaga, bukan mencicipi."

Kejujuran dan amanah Mubarok membuat hati sang Qadli kagum. Ia menyadari bahwa Mubarok cerdas dan bertakwa, sehingga mempercayakan urusan lebih penting kepadanya.


Pilihan Mantar untuk Putri

Ketika ditanya soal calon menantu, Mubarok menjelaskan:

“Orang-orang kafir mengutamakan keturunan dan status, orang Yahudi dan Nasrani mengutamakan kecantikan, sahabat Nabi mengutamakan agama dan taqwa, sedangkan zaman sekarang lebih mengutamakan harta.”

Dengan pertimbangan agama, taqwa, dan amanah, Nuh bin Maryam akhirnya memilih Mubarok sebagai menantu. Putrinya pun ridho dan menikahlah mereka.


Kelahiran Abdullah bin Mubarok

Setelah pernikahan, Nuh bin Maryam memberikan harta yang melimpah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak laki-laki bernama Abdullah bin Mubarok, yang kelak menjadi ulama besar, terkenal dengan ilmu, zuhud, dan banyak meriwayatkan hadits Nabi ﷺ.

Kisah ini menunjukkan keutamaan memilih pasangan yang saleh, amanah, dan bertaqwa. Seperti doa yang diajarkan:

اللهم ان كنت صالحا ارزقني زوجة صالحة وان لم اكن صالحا ارزقني زوجة تصلحني
"Ya Allah, jika aku sholeh, berikanlah aku istri yang sholehah. Jika belum sholeh, berikanlah istri yang menjadikanku sholeh."


Pelajaran dari Kisah Ini

  1. Kejujuran dan amanah selalu dihargai, bahkan bisa mengubah nasib seseorang.

  2. Taqwa dan agama menjadi kriteria utama dalam memilih pasangan hidup.

  3. Anak yang lahir dari pasangan saleh berpotensi menjadi generasi unggul dan berilmu.


Sumber: Disadur dari Attibr Masbuk fi Nashihatil Muluk karya Imam Ghazali

Posting Komentar untuk "Kisah Mubarok: Dari Budak Taat Menjadi Ayah Ulama Besar Abdullah bin Mubarok"