Doa Ijazah Syaikhona KH. Dalhar Magelang: Sanad Tawassul dari Kiai Mahrus Aly hingga KH. Ahmad Chalwani
Kisah Doa Ijazah Ulama Besar Nusantara
Dalam tradisi pesantren, ijazah doa bukan sekadar bacaan, tetapi amanah spiritual yang memiliki sanad keilmuan. Salah satu doa ijazah yang sangat berharga dan jarang diketahui masyarakat luas adalah doa tawassul yang berasal dari Syaikhona KH. Dalhar Watucongol Magelang, diterima oleh KH. Mahrus Aly Lirboyo, lalu diijazahkan kepada KH. Ahmad Chalwani Berjan Purworejo.
Doa ini bukan doa sembarangan. Ia diwariskan dari wali ke wali, dari guru kepada murid pilihan yang siap menjaga adab, akhlak, dan istiqamah.
KH. Mahrus Aly: Santri Pengembara Sepanjang Hayat
Sebelum dikenal sebagai pengasuh besar Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH. Mahrus Aly adalah santri pengembara sejati. Beliau mondok dari satu kiai ke kiai lainnya, bahkan ketika putra-putranya telah menjadi kiai besar.
Kerendahan hati beliau luar biasa. Bagi Kiai Mahrus Aly, mencari ilmu bukanlah fase kehidupan, melainkan napas hidup. Inilah yang membuat beliau mendapatkan limpahan keberkahan sanad dan ijazah dari para ulama besar.
Salah satu guru yang sangat berpengaruh dalam perjalanan spiritual beliau adalah Syaikhona KH. Dalhar Watucongol, Magelang, seorang wali besar Nusantara yang dikenal dengan kedalaman ilmu, kezuhudan, dan karomahnya.
Ijazah Tawassul dari Syaikhona KH. Dalhar
Dari Syaikhona KH. Dalhar inilah KH. Mahrus Aly menerima ijazah doa tawassul yang kemudian menjadi amalan istimewa di kalangan para kiai dan santri tertentu.
Bertahun-tahun kemudian, ijazah doa tersebut diwariskan kepada murid pilihan beliau, yaitu KH. Ahmad Chalwani Berjan, Purworejo, seorang ulama kharismatik yang dikenal luas sebagai ahli wirid, doa, dan riyadhah.
Namun sebelum mengijazahkan doa tersebut, KH. Mahrus Aly mengajukan pertanyaan penting kepada murid-muridnya:
“Kalau kalian selesai tahlil, ziarah wali, bagaimana kalian bertawassul?”
Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengantar adab dalam bertawassul.
Teks Doa Tawassul Ijazah KH. Dalhar
Setelah itu, KH. Mahrus Aly mengajarkan doa tawassul yang jarang diketahui orang, dengan lafadz sebagai berikut:
🕌 Tulisan Arab:
يَا صَاحِبَ هَذِهِ الْمَقْبَرَةِ إِنِّي أَتَوَسَّلُ بِكَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي قَضَاءِ .... حاجتي
📖 Artinya:
"Wahai pemilik makam ini, sungguh aku bertawassul denganmu kepada Allah Ta‘ala agar dikabulkan hajatku..."
Adab Bertawassul di Makam Para Wali
KH. Mahrus Aly menegaskan adab penting dalam mengamalkan doa ini:
“Kalau kamu berada di makam para wali, sebutkan nama shohibul maqbaroh.”
Contoh:
Yā ṣāḥiba hādzihil maqbaroh… Raden Syahid Sunan Kalijaga…
Hal ini menunjukkan adab penghormatan, bukan penyembahan. Tawassul dilakukan melalui kemuliaan wali, sementara permohonan tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT.
Inilah pemahaman tawassul yang lurus sebagaimana diamalkan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Makna Sanad dan Keberkahan Ijazah Doa
Doa ini memiliki sanad yang jelas dan tidak jatuh ke sembarang tangan. Ia diwariskan kepada mereka yang:
Menjaga adab kepada guru
Memahami akidah yang lurus
Mengamalkan ilmu dengan tanggung jawab
Tidak menyalahgunakan amalan
Dalam tradisi pesantren, sanad adalah penjaga kemurnian ilmu, dan ijazah adalah tanda kepercayaan spiritual dari guru kepada murid.
Penutup
Kisah doa ijazah dari Syaikhona KH. Dalhar Magelang, melalui KH. Mahrus Aly, hingga KH. Ahmad Chalwani Berjan adalah bukti hidupnya tradisi sanad ulama Nusantara.
Semoga kita mendapatkan keberkahan ilmu, adab, dan sanad para ulama, serta dijauhkan dari pemahaman yang keliru dalam beragama.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Posting Komentar untuk "Doa Ijazah Syaikhona KH. Dalhar Magelang: Sanad Tawassul dari Kiai Mahrus Aly hingga KH. Ahmad Chalwani"