Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Banyak yang Salah! Ternyata Puasa Syawal Tidak Harus Berurutan

Apakah puasa 6 hari bulan Syawal harus berurutan? Atau boleh terpisah?
Jawabannya tidak. Karena memang teks hadits yang menyebutkan itu tidak memberikan tambahan adanya tatabbu’an atau berurutan. Teks hadits yang ada sifatnya mutlak begitu saja. Karenanya tidak harus berurutan, boleh dikerjakan secara terpisah yang penting masih di bulan syawal.

Lagi pula, keutmaan puasa setahun itu sebab jumlah harinya yakni 30 hari Ramadhan sama dengan 300 hari, dan 6 hari syawal sama dengan 60 hari. Dan keutamaan ini bisa didapatkan walaupun tidak berurutan. 

Al Imam An Nawawi mengatakan:

وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَامَ السِّتَّةُ مُتَوَالِيَةً عَقِبَ يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ أَوَائِلِ شَوَّالٍ إِلَى أَوَاخِرِهِ حَصَلَتْ فَضِيلَةُ الْمُتَابَعَةِ لِأَنَّهُ يَصْدُقُ أَنَّهُ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ وَقَدْ جَاءَ هَذَا فِي حَدِيثٍ مَرْفُوعٍ فِي كِتَابِ النَّسَائِيِّ

"Yang paling utama adalah puasa enam hari (Syawal) dilakukan secara berurutan setelah hari Idul Fitri. Namun, jika seseorang memisahkannya atau menundanya dari awal Syawal hingga akhir bulan, maka ia tetap mendapatkan keutamaan mengikuti (puasa Ramadan dengan puasa Syawal), karena secara makna tetap dianggap telah mengikuti Ramadan dengan enam hari dari Syawal.

Para ulama berkata: Puasa enam hari Syawal disamakan dengan puasa sepanjang tahun, karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Maka, puasa Ramadan setara dengan sepuluh bulan, dan enam hari Syawal setara dengan dua bulan. Hal ini juga disebutkan dalam hadits marfu’ yang terdapat dalam kitab An-Nasai." [Syarh Shohih Muslim Juz 8 Hal 56]

Posting Komentar untuk "Banyak yang Salah! Ternyata Puasa Syawal Tidak Harus Berurutan"