Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KH. Hasyim Asy’ari dan Peran Ulama dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno sowan kepada KH Muhammad Hasyim Asy’ari, menunjukkan betapa sentralnya peran ulama pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Para pejuang nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lainnya senantiasa meminta nasihat, saran, dan masukan para kiai karena segala sesuatunya tidak lepas dari Rahmat dan Ridho Allah SWT.

Ulama dianggap manusia yang paling dekat dengan Tuhannya, sehingga keputusan strategis bangsa pun dikonsultasikan kepada mereka.


Istikharah dan Pemilihan Hari Proklamasi

Beberapa hari sebelum proklamasi, Bung Karno dan kawan-kawan sowan ke KH Hasyim Asy’ari untuk menentukan hari yang tepat.

Kiai Hasyim Asy’ari memberikan masukan:

  • Hari Jumat (Sayyidul Ayyam – penghulu hari)

  • Bulan Ramadhan (Sayyidus Syuhur – penghulu bulan)

Tanggal yang dipilih adalah 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945, hari proklamasi kemerdekaan Indonesia.

"Awal Ramadhan bertepatan dengan 8 Agustus 1945, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan. Dipilihlah hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H, tepat 17 Agustus 1945." (Aguk Irawan MN, Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari, 2012)

Angka 9 merupakan simbol numerik tertinggi, hari Jumat adalah penghulu hari dalam seminggu, dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.


Diplomasi Ulama dalam Mendukung Kemerdekaan

KH Hasyim Asy’ari juga melakukan diplomasi internasional. Ia menjalin surat-menyurat dengan Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina dan Ketua Kongres Muslimin se-Dunia, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

"Syekh Al-Amin Al-Husaini mengirim surat teguran kepada Duta Besar Jepang di Jerman, agar segera mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia, sebagian besar beragama Islam." (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Balasan dari Kiai Hasyim Asy’ari dan Masyumi menunjukkan peran ulama dalam diplomasi internasional, selain juga mempersiapkan pasukan santri Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi kemungkinan perang pasca-proklamasi.


Peran Ulama dalam Perjuangan Militer

Pasca Proklamasi, terjadi ancaman dari tentara NICA Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Santri dan rakyat Indonesia bertempur, salah satunya pada 10 November 1945 di Surabaya, menandai keberhasilan menumpas agresi militer Belanda II.


Hikmah

  1. Kebijakan besar bangsa memerlukan bimbingan ulama agar sesuai dengan ridho Allah SWT.

  2. Istikharah dan doa ulama menjadi penentu waktu yang tepat dalam keputusan penting.

  3. Ulama tidak hanya berperan secara spiritual, tetapi juga diplomatis dan militer, membantu mempersiapkan bangsa merdeka.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻧﻜﺴﺒﻨﺎ ﺭﺣﻤﺘﻚ ﻭﺍﻋﻄﻨﺎ ﺍﻟﻬﺪﻱ ﻓﻲ ﺭﻓﻌﻪ ﺍﻟﺴﻠﺎﻡ ﻭﺍﻟﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ
Allahumma ansybana rahmataka wa a’tina al-huda fi raf’i as-salam wa al-a’mal as-shalihah
(Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu dan tunjukkan kami petunjuk dalam menegakkan perdamaian dan amal shalih)


Sumber:

  • Aguk Irawan MN, Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari, 2012

  • Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010

Posting Komentar untuk "KH. Hasyim Asy’ari dan Peran Ulama dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia"