Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kepada Manusia Kita Percaya, Mengapa Kepada Allah Kita Masih Ragu?

Kepada Manusia Kita Percaya, Mengapa Kepada Allah Kita Masih Ragu?

Tafsir Reflektif Al-Waqi’ah Ayat 57 Menurut Gus Baha

نَحۡنُ خَلَقۡنٰكُمۡ فَلَوۡلَا تُصَدِّقُوۡنَ
“Kami telah menciptakan kalian, maka mengapa kalian tidak membenarkan?”
(QS. Al-Waqi’ah: 57)

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sangat mudah menaruh kepercayaan kepada sesama manusia. Kita menitipkan uang kepada teman, menyerahkan urusan penting kepada orang lain, bahkan mempercayakan masa depan kepada atasan atau sistem. Namun ironisnya, ketika urusan itu berkaitan dengan Allah SWT, justru banyak manusia yang ragu.

Fenomena ini selaras dengan pesan Surat Al-Waqi’ah ayat 57 yang sering dijelaskan oleh Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dengan bahasa sederhana, logis, dan menyentuh kesadaran.

Tafsir Al-Waqi’ah Ayat 57 Menurut Gus Baha

Gus Baha menjelaskan bahwa ayat ini adalah teguran yang sangat jujur. Allah tidak memerintah atau mengancam, melainkan bertanya secara logis:

“Kalian ini sudah jelas diciptakan oleh Allah. Lalu mengapa masih tidak mau membenarkan-Nya?”

Menurut beliau, manusia tidak pernah dimintai persetujuan saat diciptakan. Tidak bisa memilih lahir dari siapa, kapan, dan di mana. Namun anehnya, setelah hidup berjalan, manusia sering merasa paling berhak mengatur segalanya sendiri.

Percaya kepada Manusia, Ragu kepada Allah

Gus Baha sering menyoroti ironi ini:

  • Kepada manusia, kita percaya meski sama-sama lemah

  • Kepada Allah, kita ragu padahal Maha Kuasa

Kita percaya teman tidak akan berkhianat, padahal bisa saja ia lalai. Kita percaya sistem dunia akan berjalan adil, padahal sering gagal. Tetapi kepada Allah yang tidak pernah salah janji, justru kita mempertanyakan takdir-Nya.

Menurut Gus Baha, keraguan kepada Allah bukan karena kurang dalil, melainkan karena manusia terlalu sibuk merasa mampu.

Logika Iman yang Dilupakan

Dalam corak tafsirnya, Gus Baha menekankan bahwa iman itu sangat masuk akal. Jika manusia mau jujur:

  • Hidup tidak pernah kita rencanakan dari awal

  • Rezeki sering datang dari arah yang tidak disangka

  • Banyak kejadian di luar kendali kita

Semua ini seharusnya menjadi bukti bahwa ada kehendak Allah yang bekerja. Maka mempertanyakan Allah sambil percaya penuh pada manusia adalah sikap yang tidak konsisten secara logika.

Kaitannya dengan Hari Akhir

Surat Al-Waqi’ah berbicara banyak tentang hari kiamat dan pembalasan. Gus Baha menjelaskan bahwa:

“Kalau menciptakan dari tidak ada saja Allah mampu, menghidupkan kembali setelah mati itu urusan kecil.”

Keraguan pada hari akhir sebenarnya adalah bentuk ketidakjujuran dalam berpikir, karena logika penciptaan sudah sangat jelas.

Hikmah yang Dapat Dipetik

Dari tafsir ini, terdapat beberapa pelajaran penting:

  1. Kepercayaan sejati hanya layak diberikan kepada Allah

  2. Manusia boleh berusaha, tetapi tidak pantas sombong

  3. Tawakal bukan pasrah, melainkan sadar keterbatasan

  4. Iman adalah keberanian mempercayai Allah sepenuhnya

Relevansi dalam Kehidupan Modern

Di era modern, manusia semakin menggantungkan hidup pada sistem, teknologi, dan relasi. Namun Gus Baha mengingatkan bahwa semua itu hanya perantara, bukan penentu hakiki.

Ketika hati kembali yakin kepada Allah, hidup akan terasa lebih ringan, karena tidak semua beban harus kita pikul sendiri.

Kesimpulan

Menurut Gus Baha, Surat Al-Waqi’ah ayat 57 adalah ajakan untuk jujur pada iman. Jika kepada manusia saja kita bisa percaya, maka kepada Allah yang menciptakan hidup dan mati, seharusnya kita jauh lebih yakin.

Ayat ini mengajak kita merenung:
Kepada manusia kita percaya segala urusan, mengapa kepada Allah kita masih ragu?

Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk menata kembali iman, memperbaiki tawakal, dan menguatkan keyakinan kepada Allah SWT.

Posting Komentar untuk "Kepada Manusia Kita Percaya, Mengapa Kepada Allah Kita Masih Ragu?"